JURNAL STUDI BUDAYA: EKSPLORASI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CITOREK
Oleh: MAPALA HALMAHERA
Pendahuluan
- Masalah Penelitian: Di tengah arus modernisasi yang pesat, banyak nilai kearifan lokal dan praktik konservasi tradisional di masyarakat adat yang mulai terlupakan atau tidak terdokumentasi dengan baik. Terdapat kebutuhan mendesak untuk memahami bagaimana masyarakat adat tetap mempertahankan harmoni antara manusia dan alam.
- Tujuan Penelitian: Mendokumentasikan tradisi, asal-usul, dan pola kehidupan masyarakat Desa Citorek, serta memahami nilai-nilai konservasi dan persaudaraan yang mereka anut.
- Relevansi Penelitian: Penelitian ini berfungsi sebagai arsip pengetahuan (Buku Budaya) bagi organisasi mahasiswa pencinta alam dan referensi ilmiah mengenai ketahanan budaya masyarakat adat di Provinsi Banten.
Kajian Pustaka
- Penelitian Relevan: Merujuk pada studi etnomedisin dan antropologi sebelumnya di masyarakat adat (seperti studi Suku Kajang Ammatoa), masyarakat adat di Indonesia umumnya memiliki filosofi "hidup selaras dengan alam" yang tertuang dalam aturan adat yang tidak tertulis namun dipatuhi secara kolektif.
- Dasar Teori: Menggunakan konsep Local Wisdom (Kearifan Lokal) dan Etnografi, di mana kebudayaan dipandang sebagai sistem pengetahuan yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
Metode Penelitian
- Desain Penelitian: Kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksploratif.
Teknik Pengumpulan Data:
- Observasi Partisipatif: Terlibat langsung dalam kegiatan masyarakat (mengikuti prosesi Seren Taun).
- Wawancara Mendalam: Berdialog dengan tokoh adat dan warga setempat untuk menggali sejarah dan filosofi.
- Studi Dokumen: Pengumpulan data sekunder mengenai geografis dan demografi Desa Citorek.
- Populasi dan Sampel: Masyarakat Desa Citorek, Lebak, Banten, dengan fokus pada Kasepuhan dan warga pelaksana adat.
Hasil dan Pembahasan
- Temuan Utama:
- Asal-Usul: Nama Citorek berasal dari kata "Ci" (Air) dan "Torek" (Tuli), merujuk pada legenda suara air terjun yang sangat keras hingga memekakkan telinga.
- Tradisi Seren Taun: Merupakan upacara perwujudan syukur atas hasil panen. Nilai utamanya adalah penghormatan terhadap padi sebagai sumber kehidupan.
- Kehidupan Sosial: Masyarakat menerapkan sistem penanaman padi serentak yang diatur oleh Kasepuhan. Hal ini menunjukkan kepatuhan terhadap hierarki adat dan manajemen sumber daya alam yang berkelanjutan.
- Diskusi Implikasi: Praktik pertanian di Citorek membuktikan bahwa kedaulatan pangan dapat dicapai melalui kebersamaan dan penghormatan terhadap siklus alam, bukan sekadar mekanisasi pertanian modern.
Kesimpulan
- Jawaban Pertanyaan: Masyarakat Citorek berhasil mempertahankan identitasnya melalui integrasi antara ritual keagamaan/adat dengan aktivitas ekonomi (pertanian). Nilai persaudaraan dan keselarasan alam menjadi fondasi utama ketahanan mereka.
- Saran: Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai potensi ekowisata berbasis budaya di Citorek agar peningkatan ekonomi warga tidak merusak tatanan adat yang sudah ada. Dokumentasi budaya harus terus dilanjutkan di desa-desa adat lainnya secara bertahap.
Referensi
- MAPALA HALMAHERA. (2025). Buku Studi Budaya: Sedikit Mengenal Budaya Citorek. Depok: STT Terpadu Nurul Fikri.
- KMPA ASTACALA. (2024). Bivak Ramuan Ibu Bumi: Konservasi Etnomedisin Suku Kajang Ammatoa.
- Data Observasi Lapangan Desa Citorek, Lebak - Banten (27-29 September 2025).

0 Komentar